Selasa, November 09, 2010

HILANG

Walau
telah lampau berlalu diri karam

hingga kelu
degup hati kian kelam tenggelam

lalu kaku
tiap ruas iga melebur karang

namun relung
masih merindu rona rasa yang hilang

Minggu, Oktober 31, 2010

ABAIKAN

Adakah selalu kau terhujam vonis menyaru duri?
 

Yakinlah
Dara manis tiada pantas lirih terajam perih
 

Tiada perlu asam lambung hati cerna segala caci
 

Muntahkan saja
hingga terpuaskan melega semua benci...

Senin, Oktober 18, 2010

DENGAR

Yakinlah 
selalu akan ada sepasang ruang dengar
yang tergetarkan menggema
oleh jerit serak lirih penghuni relung-mu
di palung terdalam...

Sabtu, Agustus 28, 2010

KEPAK LIRIH

Kepak sayap jiwamu menghembus sunyi

Merekahlah selalu bilur-bilur perih

Bagai kau cipta sendiri
gurat noktah merah menyayat lirih...

Jadi,
sampai kapan tembok itu kau pertinggi?

Sabtu, Agustus 14, 2010

PEKAT SEPASANG SAYAP

Mungkin
sepasang tungkai penuh
pekat-pekat kumal bulu di punggungku
tak akan mampu bersetara
dengan sepenggal sayap sang merpati...

  
Bahkan
hembus kepak ringkih ini pun tiada pantas
walau hanya menjadi siluet
penghias pendar senja sang mentari...

Jumat, Agustus 06, 2010

KILAU SEMU

Apakah
ada sepercik pendar berkilau pada diriku
yang begitu silaukan retina hatimu?

Sungguh
tak ingin ku sesatkan arah pijakmu
sebab tabir kemilau semu...

Selasa, Agustus 03, 2010

BEKU SEBONGKAH HATI

Entahlah
mungkin dinding es telah merengkuh
sampai beku sebongkah hati...



Bahkan
gemulai peka jemari terajam kelu
saat coba menjamah tiap-tiap tepi...

Selasa, Juli 27, 2010

PENDARMU DALAM IMAJI


Mungkin
pendar-pendar kemilaumu dalam raga
tiada yang mampu ciptakan duga
akan wujud gemulai indahnya...

Namun
jika pun sudi,
relakah sekedar kilaunya terpatri
dalam sudut ruang imaji...?

Kamis, Juli 01, 2010

TEARS OF THE GRAY CLOUD

Tears from the gray cloud of the sky
has been dropped to the ground of the earth.
And now every floor looks too wetly
isn't it?

Can you feel it?
That it's gonna be cool enough right here
(I mean) Deep inside here...

Just hope it's not gonna be freeze anyway.
Only hope my step isn't become so numb on my way.
Really hope every pain is just stay away.
And I fully hope any apologize if I have to go away... :)



Dedicated for:
"a Princess"
(Thanks for loving me...)

BUKAN BERANDAI

Bukan ingin ku berandai.
Tidak pula niat bait semu kurangkai.
Hanya ku bangun harap kau tergapai.
Bersujud memohon pada Nya anganku tercapai.
Hampiri sambut penantian sosokmu melambai.
Selamatkan jiwa sekarat hatimu terkulai.
Lalu kujaga kau dalam dekapku dari terpa bayu beribu badai.

Sungguh, bukan ingin ku berandai...

DRAMA CINTA SEGITIGA

Maaf saja, sayangku...
Ternyata kau bukanlah urutan terwahid satu-satunya yang kucinta.
Sungguh adanya pihak ketiga di antara kita...

Aih, janganlah dulu kau tumpahkan tangis itu.
Janganlah pula kau muramkan paras itu.
Selayaknyalah kita bersama mencintaNya.
Tahukah kau siapa sesungguhnya cinta di antara kita, kasihku?
Ya, Dialah Allah Subhanahu Wa Ta'ala... :)

REMBULAN SEPI

Entahlah
para gemintang mungkin malu berdendang kerlip malam ini

Ataukah sang purnama yang angkuh bercahaya (muram) pucat tunggal walau hanya pinjam sepenggal pendar sang mentari?

Mungkin juga gumpal-gumpal awan pekat yang telah selubungkan tirainya
redupkan kilau-kilau cangkang sang langit

. . . . . . .

Aih, rembulan ternyata
sepi...

PULANG

Ya Rabb...
Semakin harap hamba-Mu hina ini kembali ke tanah kelahiran ku berkadang

Baru dirasa baru terasa...
Di tempatku kini menua dulunya tumbuh mematang,
hanyalah tanah lapang ku pijak rantau bertandang

Aih, Emak...
Inginnya sungguh ku terbang,
atau sedapatnya berenang
pulang...

BUNGA ES

Saputan gemulai kabut
coba membasuh-sapa seonggok hati
Namun
tiada lagi liuk bening mengembun
malah beku mengkristal
bunga es...

GURUN MATA

Walau
lama sembab langit tempias
dan telah koyak payung retina,
tandusnya mata
tetaplah kerontang...

 

Haiku amatir: PEKAT HUJAN

Gerimis hitam
Digiring bayu mendung
Genangi kalbu

My first Haiku: RINGKIH PIJAK PEMIMPI

Pijak ku kaku
Terseok ladang batu
Mengais mimpi

DI UJUNG MENARA NIHIL

Duduk beralas tapak kaki siku menyiku

Langit telah meremang sejak 7 jam yang lalu
Sejenak tersinggahi bulir-bulir tangis awan kelabu
Redupkan kerlip cangkang gemintang tiada kemilau


Merenung ku terpaku di puncak teratas menara nihil ini

Jutaan gemintang mungkin telah turun berpindah menghuni bumi
Kerlip warna warni berserak terpampang dari atas sini
Memang malam tiada mampu lelapkan sekaligus semua insani


Sepasang sayap hitamku merengkuh raga bergeming diterpa angin mendung

Para penghuni malam telah pecahkan sunyi senyap yang terbendung
Pekat-pekat gelap bagai tertikam perlahan pijar lampu-lampu menggantung
Walau tetap ada segelintir jendela meredup dengan si empu berselimut beton terlindung


Aku masih di atas sini
dengarkan denting dawai malam yang belum terbungkam

Masih termangu di atas sini
saksikan theater malam yang belum terpejam

Dan mungkin masih bertopang dagu di ujung menara nihil ini
sampai fajar menikam malam larutkan kelam

Rabu, Mei 05, 2010

KOLABORASI DUA SISI

Aku lelah jadi lemah
Tersilaukan rapuh pendar purnama
Gigil meringkuk mau sirna


Rembulan pantulan surya keegoisan
Angkuh bersinar tunggal redupkan bintang
Tiada guna hiraukan pekat berhias pucat bulatan


Tapi aku tetaplah si rapuh
Begitu mudah mengharu biru
Sungguh pecundang peratap pilu


Sini ku rajam kau dengan perih
Mari ku ajarkan nikmati pedih
Garang pembuluh darah sampai mendidih


Tapi aku letih
Kau akan pulih

Ini... sakit
Ini tidak sulit

Aih, hanya hambar tersisa
Haha, telah tersayat nadi perasa

Apa aku mati?
Tidak, hanya ku selimuti

Kenapa kau rengkuh wajahku?
Agar tersungging seringaiku

Boleh ada tangis?
Tak ada lagi gerimis miris!


Me & The other side

BENGIS

Wahai hamba-hamba cinta
Menarilah...
Berdansalah dalam alunan irama dawai kisah kasihmu.
Nikmatilah...
Nikmatilah gula-gula manisnya,
hingga suatu masa olehmu tergigit melejit pahit getirnya.

Dan di sini...
Hanyalah aku menyeringai bangga telah puas membinasakan rasa dalam beku beku kebekuan kalbu.

Hahaha...

Ooh, indah nian bengis seringai kemenanganku terbingkai pekat merefleksi dalam kelabu sabutan kabut cermin kelam.

PESONA SANG NONA

Sungguh, Nona...
Tanpa sengaja telah ku susupkan sebongkah beku di balik ruas ruas dadaku hingga tiada satu pun pesona dan pikat penjerat hasrat sanggup cairkan menggigil dinginku yang inginkan ku berlaku layaknya pemuja-pemujamu yang setia menghamba mengemis setetes embun hatimu.

Lihatlah sejenak diriku, Nona...
Tiada pantas lagi ku berlutut sejajar dengan seluruh budak-budak sahaya penyembah pendar aura gemulai pesona paras rupawanmu.

Kumohon, Nona...
Jika pun kau sudi, cukuplah berikan aku barang sekeping dua keping recehan kumal dari sakumu, atau sekedar sisa-sisa butir nasi di piring santapmu untuk ku ganjalkan ke lambung keroncongan keluargaku.

Ketahuilah wahai, Nona...
Sesungguhnya mabuk karena pesona jelitamu tiada mampu membuatku mengucap syukur karena bersendawa kekenyangan.

AMNESIA RASA

Sungguh hati telah amnesia...
Lama terlupa akan cinta indahnya rasa.

Hati bagai dungu bertanda tanya...
Cinta itu apa wujudnya???

Lalu kembali bertanya dalam kesah...
Adakah bius menginjeksi hati lalu mati rasa?
Ataukah sebuah masa telah menikam rasa hingga binasa??
Mengapa seolah cinta tak lagi sudi merasuk asa???

Sungguh hati kian miskin mengemis bagai peminta...
Siapa pun, kumohon ingatkan aku rasanya cinta.

Sabtu, April 17, 2010

KONTRADIKTIF MUSLIMAH DAN KAIDAH BERBUSANA. (Bacaan wajib cewe2 yg ngerasa Muslimah!)

  Sebelumnya saya pribadi berharap teman2 yg membaca tulisan ini tdk menganggap saya sedang berkhotbah. Lagi pula saya merasa sama sekali jauh dan blm pantas menyandang gelar Kiai, ustadz dan sejenisnya. Anggaplah ini sebuah masukan dari seorang sahabat.

   Saya ingin bertanya kpd teman2 (terutama kaum hawa). Apa sih fungsi dasar pakaian? Mungkin akan ada yg menjawab sbg pelindung tubuh dari cuaca dingin dan panas, atau malah ada yg menjawab sbg bagian dari ekspresi diri dan eksistensi diri dari trend dan fashion. Tapi saya berharap ada jg yg menjawab walaupun hanya sebagian kecil dari teman2 bahwa fungsi pakaian pd hakekatnya sbg penutup aurat.

   Jika pd hakekatnya pakaian sbg penutup aurat, lantas kenapa justru dgn pakain malah bisa menjadi sbh media utk mempertontonkan aurat? Contoh yg paling mudah ditemui saat ini adalah trend hotpant dan sejenisnya yg menjadikan paha2 mulus para kaum hawa jd terkesan sangat murah! Ya, dgn tegas saya berani menyebutkan celana model itu membuat paha2 mulus itu terlihat murah! Jujur saya pd awalnya menikmati pemandangan mulus paha para cewe yg berseliweran di dpn mata saya. Tapi lama2 mulai ada rasa bosan dgn pemandangan tersebut. Tidakkah hal tsb bisa menjadi bukti bahwa dgn pakaian spt itu justru para kaum hawa telah menurunkan daya tarik, kehormatan, dan harga dirinya?
Saya kadang jg bingung, koq bisa2nya ada seorang wanita menangis bahkan nekat mau bunuh diri karna tidak perawan lagi dgn alasan dirinya sudah tidak punya kehormatan lagi sbg seorang wanita, pdhl kehormatannya sudah lama ia obral habis dgn mempertontonkan auratnya sendiri dgn pakain2 yg minim dan seksi.

   Ada 1 fenomena lagi yg membuat saya geli sendiri yaitu ttg kaedah berbusana Muslimah. Tidakkah aneh seorang Muslimah yg mengenakan jilbab tp ttp menggunakan pakaian yg menunjukkan lekuk2 betis, paha, pantat, bahkan dada! Bukankah kaedah berbusana seorang Muslimah pd intinya menyembunyikan semua aurat hingga lekuk2nya.

  Sabda Rosulullah."Barang siapa yg berjaln legak legok seperti punuk unta, dan tabbaruj, maka dia tidak akan mencium wewangian surga"
Sesunguhnya aurat seorang Muslimah hanya akan menjadi halal jika dinikmati oleh muhrimnya.

   Demikian opini saya yg mungkin masih terdapat bnyk cacat di sana sini. Dan saya sangat sadar akan dasar pengetahuan saya yg masih sangat minim ttg Agama Islam. Tapi jika dipikir dgn logika, saya saja yg dgn ilmu pas-pasan tahu tentangg hal-hal yang saya bahas di atas, masa teman-teman yg mungkin ilmunya jauh di atas saya hanya bisa berpura-pura menutup mata. Akhir kata, Semoga tulisan sederhana saya ini bermanfaat bagi yg membacanya. Amin.

INTEGRITAS TERPENGGAL

Sejatinya diri ini tidak lagi tunggal,
seperti telah lama integritas terpenggal.
Mungkin adanya selain bunda, dengan rahim hitamnya lahirkan sesosok kelam.



   "Kuatkan imanmu, Nak. Selamatkan jiwamu. Sang terkutuk tidaklah lahir dari rahimku!" Serak lirih jerit Ibunda.
   "Bunda. Kini sejati diriku yang rapuh bahkan tak pantas mengenang rahimmu. Rahimmu yang memandikanku dengan darah sucimu menghantarkanku ke dunia. Tidak pantas!" Linang hitam air mataku mengiringi jerit sekarat kalbuku terbata.


 
Lalu...
seringai angkuh sang terkutuk bagai penuh bangga pamerkan seperangkat taringnya yang siap mengoyak nodai tiap inci pembuluh darahku hingga penuh sesak oleh noktah-noktah dosa.

 
Dan sampai ajal...
aksi dua sisi tiada henti saling merajam,
saling memekik mengangkat pedang menghunus tajam.
Bahkan ciptakan pula sosok bimbang di tengah, terpana terdiam
yang dengan bodohnya mengepal jemari namun hanya terpaku menggeram!

USAHA PAYAH MEMBENTUK KATA

Tiap goresanku dalam seperangkat kata hanyalah subtitusi.
Subtitusi dari kesakitan yang menggeliat keluar merealisasi.
Sekedar jeritan nada-nada hati mengalun tanpa dawai membentuk kata-kata basi berimprovisasi.
Atau...
bisa juga sebentuk usaha berstruktur dari hati penuh kisah kasih,
mencoba mencipta tempat bernaung bagi rasa dalam wujud berdimensi.



Syairku bukanlah kesempurnaan ayat.
Hanya usaha payah lantunan isi hati tersirat.
Upaya jengah memperkaya kalbu yang melarat.
Berharap bangkit dari kematian hidup sadarkan jiwa yang sekarat.





Jadi biarlah, aku hanya ingin teriak.
Sampai kering kerongkonganku tercekik hingga serak.
Dalam ukiran kata-kata yang terburai dan berserak.
Hingga terhenti degup jantungku yang letih bergeming enggan lagi bergerak.

Selasa, April 06, 2010

TERIAK

Ingin rasanya ku pecahkan getir sunyinya malam dengan getar pita suara penuh sumpah serapah hingga terkoyak berlumur darah lalu beresonansi dalam rahang sampai menggorok tenggorokanku hingga bernanah!


Rasukilah lorong-lorong malam lalu tikam pekat-pekat kelamnya dengan dayu-dayu nada menyayat bagai belati sang iblis kelana!


Bergemalah tanpa henti merajam memekakan relung-relung telinga para jangkrik yang akan seketika berkelu lidah lalu pucat terpana!


Terus...
dan teruslah gaung suaraku mengalun tajam penuh ego sampai fajar meredam gema keangkuhannya hingga sirna....

Senin, Maret 29, 2010

GURATAN APRESIASI RASA HATI

Tarik,
lalu bentanglah bebas sebuah garis
Atau pun jika inginmu
dengan batang tinta tergenggam itu,
setangkai kuas dengan sabut-serabut ber-cat,
kelabu jerowan pensil ter-rawut runcing di ujung,
atau sekali pun dengan hitam melegam coreng sebongkah arang
Ya, gunakan saja sembarang

Hey, tidak juga harus lurus sebuah garis
Jangan pula ragu tanpa sempurna simetris
Bolehlah sangat di sana kau tebalkan lengkung tegurat hingga sudut terpahat
Tak akan pernah terlarang kau tancapkan terukir hingga dalam
Realisasi wujud hati akan selalu pantas di situ tertanam
Sampai kuat erat melekat akarnya terbenam

Sungguh inginku,
juga kau,
tumbuhkanlah pucuk sepasang sayap itu
Kepakkan sayap-sayap hati yang melambungkan bebas rasa-merasamu
Aku juga,
marasa-rasa kita,
rasa-rasa merasaku juga merasamu
dalam hamparan luas apresiasi hati merasa bagai langit tak berbatas mengangkasa.

Rabu, Maret 17, 2010

ANTARA RODA, LANGKAH, & SKENARIO KISAH

Apa yang mampu diucap guna maknai kehidupan?
Sebentuk lingkaran rotasi roda dengan titik poros yang terus bergerak putar,
lalu perlakukan posisi sisi-sisi atas bawahnya perumpamaan nasib para insani?

Bisa juga laju gerak maju.
Kostan tiada mundur hingga akhir langkah terus ke depan,
lalu tinggalkan jejak pijak relakan belakang.

Atau mungkin....
Hanya seprangkat skenario kisah-Nya sang maha esa
lalui takdir nasib bertahap;

kelahiran,

berangsur tumbuh,

banting tulang berpeluh

guna isi perut pertahankan hembus nafas,

ibadah berkewajiban lalu berproduktifitas,

serta tiada henti di terpa kefanaan,

hingga tanpa pilihan ajal hampiri tak terhindarkan.

Selasa, Maret 16, 2010

SEMPURNA

Sempurna...
Ialah berat imbang simetris dua sisi.
Munkin ibarat sebentuk lingkaran sempurna "Yin & Yang" satu per dua hitam putih.


Bukanlah tersebut total superior kesempurnaan
tanpa kecacatan.
Tidak juga puncak poin tertinggi positifitas
tanpa kekurangan negatifitas.


Sempurna...
Bagai sepasang telapak tanganmu
dengan seperangkat jemari yang berongga
memberikan celah untuk saling merengkuh saling mengisi.


Sama sekali bukan tunggal keegoisan
lalu dengan gagah berdiri menyendiri di mimbar keagungan.


Kini kau pun bertanya...
Lantas bagaimana dengan Tuhan?
Kau sebut apa DIA dengan kesempurnaan tanpa kecacatan?
Bahkan tak tersentuh dengan teori anehmu tentang negatifias kekurangan!
atau... apa punlah namanya.

Ketahuilah kawan...
Tuhan bukanlah sekedar kesempurnaan
DIAlah maha kemuliaan
dengan kemampuan tanpa batas mencipta segala kesempurnaan.

Senin, Maret 15, 2010

DETIK-DETIK YANG TELAH BERDEBU

Telah lampau...
Pernah bagai ku koyak serat-serat urat otot persendian pijak harapanku sendiri.

Dulu...
Sempat ku benamkan raga ringkih ini dalam kubangan comberan pekat penuh lumpur kenistaan.

Bahkan...
Bagai dungu ku relakan hati berlubang bagai selembar papan lapuk tersantap rayap.

Tapi itu hanyalah masa yang telah lama tinggalkan kalbu.
Detik-detik lalu yang telah berdebu.
Yang tak perlu lagi di haru biru.

Syukur si kesadaran masih sudi menghampiri si hina ini.
Bahkan di bawanya serta untukku bingkisan sekeranjang penuh harapan ranum nan segar.

Hingga kini...
Pijak ini hanya sudi menapak di hamparan kekininan.
Mengejar masa di depan berlimpah impian.
 

PENGEMBARA MIMPI (Part 1)

     Di suatu masa entah berantah, hiduplah seorang pemuda pengembara mimpi yang hidup dari setiap mimpi-mimpi semu yang ia ciptakan. Hari-hari sang pemuda pengembara mimpi hanya di isi dengan langkah gontai namun seperti tanpa lelah menyusuri tiap mimpi-mimpinya seorang diri.
    Ada begitu banyak kisah tawa hingga air mata yang ia temui dalam setia pengembaraan mimp-mimpinya. Berjuta bekas luka yang menghiasi raga dan sosok hatinya telah sempat berkali-kali meretakkan hingga mematahkan tulang belulang persendian harapan dan pijak langkahnya mengarungi pengembaraannya. Namun telah berkali-kali pula sang pengembara mimpi menjumpai senyum dan tawnya sendiri di dalam beberapa mimpi indahnya yang mampu sedikit menyembuhkan luka-luka dan membuat pijaknya kembali tegar melangkah walaupun gontai.
    Tapi firasat sang pengengembara mimpi seakan berbisik menghembus dingin rongga telinganya bahwa ketegarannya melangkah suatu saat pasti akan segera terpatahkan kembali.

    Suatu hari sang pengembara mimpi bagai menemukan jawaban nyata dari firasatnya itu. Ia terluka cukup parah di dalam pengembaraannya hingga ia tak sanggup lagi melanjutkan perjalanannya. Ia hanya mampu terduduk diam di tempatnya meyendiri. Sendiri merasakan pedih dan perih luka-lukanya tanpa seorang pun yang merawatnya. Ironisnya justru rasa kesepiannyalah yang terasa jauh lebih menyakitkan dan memilukan dari semua luka-luka fisik di sekujur tubuhnya. Rasa kesepiannya bagaikan kangker ganas yang perlahan namun pasti menggrogoti hatinya sedikit demi sedikit.
    Hingga pada suatu malam sang pengembara mimpi merasa sangat kelelahan karena menahan rasa sakit dari luka-lukanya dan akhirnya ia pun terlelap, namun anehnya dengan mata yang tak terpejam sedikit pun.
    Di dalam tidurnya itu ia bermimpi berada di suatu tempat yang amat sangat luas dengan hamparan serba putih dan di penuhi oleh begitu banyak orang yang berlalu-lalang. Namun tidak ada satu pun dari kerumunan orang-orang itu yang memperhatikan dirinya seolah-olah ia sama sekali tidak nampak di pandangan mereka. Sempat beberapa kali ia mencoba menegur orang-orang itu tapi tetap tak seorang pun yang menggubris.
    Padahal dirinya telah di penuhi luka-luka yang menganga memenuhi sekujur tubuhnya dan genangan darah yang mengental membasahi pijaknya.
    Di tengah kerumunan sang pengembara mimpi hanya mampu terdiam dengan tatapan kosong menanti jemputan sang ajal yang tak kunjung menghampiri dirinya.
    "Hai, tuan pengembara.Apa yang kau lakukan di sini...? Ya, Tuhan luka-lukamu...." Tiba-tiba seorang Putri menyapanya dengan penuh keiban menghiasi paras rupawannya.
    Sang pengembara mimpi hanya mampu terdiam dengan wajahnya yang penuh kesakitan memandangi sang Putri yang menyapanya.
    "Ayo ikutlah denganku tuan pengembara. Akan ku obati luka-lukamu" Ujar sang Putri dengan tubuhnya yang berpendar aura kehangatan memapah sang pengembara mimpi melangkah pergi menjauh dari kerumunan itu.
    Sesaat kemudian sang pengembara mimpi dan sang putri telah berada di tempat yang tidak kalah luasnya dengan tempat mereka bertemu di tengah kerumunan tadi. Bedanya, sekarang hanya berdua di tempat yang luas dengan hamparan serba putih itu.
    Dengan penuh kasih dan aura berpendar kehangatan, sang putri mencoba mengobati tiap-tiap luka di sekujur tubuh sang pengembara mimpi. Tidak hanya luka-luka yang terlihat, bahkan luka-luka hati sang pengembara mimpi pun coba di obati oleh sang putri.
    Sesaat kemudian, beberapa luka sang pengembara mimpipun berangsur pulih. Namun entah mengapa ada beberapa luka lain yang masih tetap menganga mengalirkan darah segar. Sang Putri berkata bahwa ia tak mampu mengobati beberapa luka yang lain, karena luka-luka yang tersisa hanya mampu disembuhkan oleh sang pengembara mimpi sendiri.
    Tapi sang pengembara mimpi merasa tidak yakin mampu mengobati luka-lukanyasendiri. Ia tetap membutuhkan sang Putri untuk mengobati sisa lukanya. Sang Putri tetap berusaha meyakinkannya agar mempercayai kemampuan dirinya sendiri. Sang mimpi pun akhirnya menuruti kata-kata sang Putri walaupun hatinya masih diselimuti keraguan.
    Sang Putri pn beranjak dari tempat itu berniat untuk pergi. Tapi sang pengembara mimpi mencoba untuk mencugahnya. Ia merasa begitu khawtir akan merasa kesepian lagi.
    Sang Putri hanya tersenyum dan berkata.
    "Suatu saat kita pasti akan bertemu lagi. Tetaplah percaya akan kemampuan dirimu sendiri" lalu sang Putri berlalu dari tempat itu.
    Sang pengembara mimpi pun akhirnya tersadar dari tidur dan mimpinya. Ia merasa mimpinya begitu nyata. Bahkan teramat sangat nyata karena ia menjumpai beberapa luka di tubuhnya yang berangsur pulih dan beberapa luka lain yang masih tersisa.Persis seperti di dalam mimpinya. Ia pun teringat kata-kata sang Putri dalam mimpinya.Sisa luka itu hanya ampu disembuhkan oleh dirinya sendiri.


TO BE CONTINUE......

Siapakah sebenarnya Putri misterius itu? akankah sang pengembara mimpi bertemu kembali dgn sang Putri? Temukan semua jawabanya di kelanjutan cerita ini, karena masih banyak hal2 tak terduga yg akan ditemui dan dialami oleh sang pengembara mimpi.