Di suatu masa entah berantah, hiduplah seorang pemuda pengembara mimpi yang hidup dari setiap mimpi-mimpi semu yang ia ciptakan. Hari-hari sang pemuda pengembara mimpi hanya di isi dengan langkah gontai namun seperti tanpa lelah menyusuri tiap mimpi-mimpinya seorang diri.
Ada begitu banyak kisah tawa hingga air mata yang ia temui dalam setia pengembaraan mimp-mimpinya. Berjuta bekas luka yang menghiasi raga dan sosok hatinya telah sempat berkali-kali meretakkan hingga mematahkan tulang belulang persendian harapan dan pijak langkahnya mengarungi pengembaraannya. Namun telah berkali-kali pula sang pengembara mimpi menjumpai senyum dan tawnya sendiri di dalam beberapa mimpi indahnya yang mampu sedikit menyembuhkan luka-luka dan membuat pijaknya kembali tegar melangkah walaupun gontai.
Tapi firasat sang pengengembara mimpi seakan berbisik menghembus dingin rongga telinganya bahwa ketegarannya melangkah suatu saat pasti akan segera terpatahkan kembali.
Suatu hari sang pengembara mimpi bagai menemukan jawaban nyata dari firasatnya itu. Ia terluka cukup parah di dalam pengembaraannya hingga ia tak sanggup lagi melanjutkan perjalanannya. Ia hanya mampu terduduk diam di tempatnya meyendiri. Sendiri merasakan pedih dan perih luka-lukanya tanpa seorang pun yang merawatnya. Ironisnya justru rasa kesepiannyalah yang terasa jauh lebih menyakitkan dan memilukan dari semua luka-luka fisik di sekujur tubuhnya. Rasa kesepiannya bagaikan kangker ganas yang perlahan namun pasti menggrogoti hatinya sedikit demi sedikit.
Hingga pada suatu malam sang pengembara mimpi merasa sangat kelelahan karena menahan rasa sakit dari luka-lukanya dan akhirnya ia pun terlelap, namun anehnya dengan mata yang tak terpejam sedikit pun.
Di dalam tidurnya itu ia bermimpi berada di suatu tempat yang amat sangat luas dengan hamparan serba putih dan di penuhi oleh begitu banyak orang yang berlalu-lalang. Namun tidak ada satu pun dari kerumunan orang-orang itu yang memperhatikan dirinya seolah-olah ia sama sekali tidak nampak di pandangan mereka. Sempat beberapa kali ia mencoba menegur orang-orang itu tapi tetap tak seorang pun yang menggubris.
Padahal dirinya telah di penuhi luka-luka yang menganga memenuhi sekujur tubuhnya dan genangan darah yang mengental membasahi pijaknya.
Di tengah kerumunan sang pengembara mimpi hanya mampu terdiam dengan tatapan kosong menanti jemputan sang ajal yang tak kunjung menghampiri dirinya.
"Hai, tuan pengembara.Apa yang kau lakukan di sini...? Ya, Tuhan luka-lukamu...." Tiba-tiba seorang Putri menyapanya dengan penuh keiban menghiasi paras rupawannya.
Sang pengembara mimpi hanya mampu terdiam dengan wajahnya yang penuh kesakitan memandangi sang Putri yang menyapanya.
"Ayo ikutlah denganku tuan pengembara. Akan ku obati luka-lukamu" Ujar sang Putri dengan tubuhnya yang berpendar aura kehangatan memapah sang pengembara mimpi melangkah pergi menjauh dari kerumunan itu.
Sesaat kemudian sang pengembara mimpi dan sang putri telah berada di tempat yang tidak kalah luasnya dengan tempat mereka bertemu di tengah kerumunan tadi. Bedanya, sekarang hanya berdua di tempat yang luas dengan hamparan serba putih itu.
Dengan penuh kasih dan aura berpendar kehangatan, sang putri mencoba mengobati tiap-tiap luka di sekujur tubuh sang pengembara mimpi. Tidak hanya luka-luka yang terlihat, bahkan luka-luka hati sang pengembara mimpi pun coba di obati oleh sang putri.
Sesaat kemudian, beberapa luka sang pengembara mimpipun berangsur pulih. Namun entah mengapa ada beberapa luka lain yang masih tetap menganga mengalirkan darah segar. Sang Putri berkata bahwa ia tak mampu mengobati beberapa luka yang lain, karena luka-luka yang tersisa hanya mampu disembuhkan oleh sang pengembara mimpi sendiri.
Tapi sang pengembara mimpi merasa tidak yakin mampu mengobati luka-lukanyasendiri. Ia tetap membutuhkan sang Putri untuk mengobati sisa lukanya. Sang Putri tetap berusaha meyakinkannya agar mempercayai kemampuan dirinya sendiri. Sang mimpi pun akhirnya menuruti kata-kata sang Putri walaupun hatinya masih diselimuti keraguan.
Sang Putri pn beranjak dari tempat itu berniat untuk pergi. Tapi sang pengembara mimpi mencoba untuk mencugahnya. Ia merasa begitu khawtir akan merasa kesepian lagi.
Sang Putri hanya tersenyum dan berkata.
"Suatu saat kita pasti akan bertemu lagi. Tetaplah percaya akan kemampuan dirimu sendiri" lalu sang Putri berlalu dari tempat itu.
Sang pengembara mimpi pun akhirnya tersadar dari tidur dan mimpinya. Ia merasa mimpinya begitu nyata. Bahkan teramat sangat nyata karena ia menjumpai beberapa luka di tubuhnya yang berangsur pulih dan beberapa luka lain yang masih tersisa.Persis seperti di dalam mimpinya. Ia pun teringat kata-kata sang Putri dalam mimpinya.Sisa luka itu hanya ampu disembuhkan oleh dirinya sendiri.
TO BE CONTINUE......
Siapakah sebenarnya Putri misterius itu? akankah sang pengembara mimpi bertemu kembali dgn sang Putri? Temukan semua jawabanya di kelanjutan cerita ini, karena masih banyak hal2 tak terduga yg akan ditemui dan dialami oleh sang pengembara mimpi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar