Rabu, Juli 22, 2009

SENYUMMU KUTANYA, LUKAKU BERTANYA

*)Kembali berkomedi demi dunia...


Kembali mengukir senyum mengembang tawa untuk semua...

Benarkah kita tulus mengajak dunia ikut tersenyum lalu tertawa...?

Ataukah hanya kedok keimitasian penutup luka duka dan lara...




Lalu, apa bedanya dengan senyum kemunafikan?

Adakah luka menganggap tawa sebagai kepalsuan?

Salahkah kusebut keimitasian?

Katamu hidup harus berjalan...

Ya, walau getir harus di telan!




Hey, aku bukan penghujat yang mencaci memaki, hanya bertanya...

Walau terkandang kembali mengeluh mencari tahu dari sekumpulan tanya...

Bukankah dunia persinggahan mahkluk-mahkluk bertanda tanya?

Perajut kalimat tanya bertanda tanya...

Lantas, salahkah senyummu kutanya?

Dan salahkah lukaku bertanya...?






*)Puisi ini terinspirasi dari kutipan kalimat seorang sahabat yg bersembunyi di balik nama:


AKU DAN PUISI

.

Selasa, Juli 21, 2009

WUJUD RASA BERWARNA TANPA NAMA

Kelabu...
Abu-abukah aku?
Bukan hitam. Sekali pun putih tak menyaru...

Atau bukan. Kelabu bahkan tak sebegitunya kelam...
Mungkinkah aku hitam?
Kadang rautnya keji tersirat kejam...
Adakah ini warna gelap dendam silam?
Namun Bukan. Ini bukan warna malam...

Lalu aku apa? Hanyalah warna tanpa cerah...
Mungkinkah aku merah?
Warna benci menyala penuh amarah!
Panas membara memerah-gerah!
Bagai jutaan noktah luka menyaru darah!
Ya, mungkin nyaris sama walau kujengah....

Tapi... bahkan merah pun tak sebegitunya kelam...
Lebih gelap walau bukan hitam...
Warna inikah rasa luka terpupur garam?
Pedih mendidihkan darah ingin menggeram...!
Warna keiblisan yg terlahir bagai anak haram, ingin merajam...!!!

Jadi, ini apa?
Hanyalah warna tanpa indah...
Ini bukan warna!
Bahkan warna tak sanggup merasa...
Lalu, aku apa?
Hanyalah si Tanpa Nama...
Ataukah si wujud hina?
Aku bukan sampah!
Bahkan noda punya nama...

. . . . . . .


Jadi disini, aku ada...
Mungkinkah?
Lalu, aku kian meresah...
Semestinyakah?
Lantas, kubertanya...
Maukah?
Aku, panggillah, maka tersebutlah...
Aku, Si Wujud Rasa Berwarna Tanpa Nama....

Sabtu, Juli 11, 2009

EFEK KESETIAAN SEPI

Pernahkah kau meringkuk dingin menggigil di sekujur tubuhmu tapi bukan karena cuaca atau pun demam?

Pernahkah kau merasakan seluruh rongga dadamu terasa begitu sesak merajah, tapi bukan karena asma atau pun penyumbatan saluran nafas?

Pernahkah ke dua matamu selalu terjaga di setiap malam walau letih tubuhmu meronta-ronta memohon dirimu untuk terlelap?

Pernahkah detik-detitk waktu terasa bagai silet menyayat pedih tiap inci hatimu yang semakin hampa penuh kekosongan?

Dan pernahkah kau menyadari keramaian & kebisingan di telingamu yang memekakan bahkan tidak sanggup mengusir rasa sepi & kesunyian yang perlahan menggerogoti jiwa & kewarasan?

Jika komplikasi tiap rasa itu kau jawab dengan lantang, "PERNAH...!!!"

Ya, itulah Efek Kesetiaan dari Sepi...

Kamis, Juli 09, 2009

CATATAN MENANTI FAJAR

Kembali terjaga...?

Bahkan secangkir candu pesakitan yang kuhirup lalu meresap bersama sepi, jauh lebih mujarab dari 10.000 gram zat cafein dalam sebaskom Espresso murni!

Jauh lebih pahit dari 10 karung biji kopi luwak yang kau garang hingga kelang!

1000 kali lipat lebih ampuh mengatasi sepasang matamu yang letih, untuk tetap terjaga hingga puluhan purnama berganti!


. . . . . . .


Purnama...?

Hey, kau matahari malam! Berhenti menatapku dengan keangkuhan parasmu yg pucat! Tidakkah cukup kesunyian malam menertawai kerapuhan hina jasad hidupku yang tanpa jiwa!? Belum cukupkah kau mengutus anak-anak cahayamu menelanjangiku setelah puas mengintipi dari sela-sela gordyn jendela & hatiku!?

Kumohon... hentikan tatapan dingin keangkuhanmu yang merajam asa. Bahkan kau tak sudi menyampaikan secarik pesan sepiku untuknya. Pesan rindu mengukir perih bertinta merah dari puing hati yang tersisa...

Ya, pesanku untuknya. Untuk dia yang kini terlelap terbuai mimpi diranjang nyaman kebesarannya merajut cinta & cita.


Lalu mengapa disini hanya aku...?

Aku yang merelakan tetesan peluh mengering perih di dalam sepasang mata yang letih terjaga...

Aku yang kembali mencerna secangkir pesakitan melucuti kewarasan dan asa...

Aku yang setia merapuh begitu pasrah menemani malam hingga terlelap...

Dan hanya Aku disini...
Yang kembali terjaga begitu jengah menantikan Fajar mengusir Rembulan...

Sabtu, Juli 04, 2009

BAYANGKAN! (Sebuah Perenungan Masa)

~Bayangkan!
Tidak perlu kau ingat, cukup bayangkan!
Tiap inci dari pijak langkah yg telah kau lalui di hari ini, kemarin, dan di setiap detik dari masa lalu.

~Tidak perlu kau ingat, cukup bayangkan!
Setiap jengkal dari perih, & pedih begitu lirih dari keresahan masa yg begitu enggan kau ungkit dan tak sudi lagi kau rasakan kini.

~Tdk perlu kau coba mengingat, Cukup bayangkan!
Segala hal yg membawa manis'y sebuah senyuman menghampiri parasmu yg saat ini menatap kosong mencoba mengerti.

~Ku terus memohon jangan mengingat, cukup kau bayangkan!
Setiap bagian dari mimpi & harapan yg tercipta begitu sempurna untuk masa yg belum kau hadapi tapi tetap teguh kau yakini.

~Bagus... Sekarang kau benar-benar jengah dengan kata yg akan kembali terulang...

~BAYANGKAN! JANGAN PERNAH KAU INGAT, CUKUP BAYANGKAN!
Sebuah hari yg baru walau terlihat sama disaat kau membuka matamu dari lelap menyambut mentari tua dan kau sadari setiap tanda tanya dibenakmu akan sekumpulan kata-kata bodoh ini telah sungguh-sungguh kau pahami...

Jumat, Juli 03, 2009

EGO PESAKITAN !

Biarkan saja tubuh ringkih ini mengeras terbujur lalu terdiam kaku meringkuk. Dingin menggigil merajam menanti lembabnya ruang hampa sepi menjadikan mayat hidup ini membusuk!

Hey, enyahlah kau sosok-sosok bising! Apa pula yg kalian pikirkan tentang zombie rapuh yg sesaat tadi mengisi lingkaran-lingkaran hitam bening matamu dengan keibaan tanpa sudi meraba rasa?! Maling kelas teri yg seenaknya bisa kalian hakimi!

Hening...

Hening...

Hening...

Terdiam? Kenapa kini hanya keheningan yg membungkus pita suara kalian?!
Kau. Ya, kau! Berujarlah sesuatu. Apa pun. Karena jika kubisa, Inginku pecahkan tempurung berbahan serupa gading berbulu penutup otak rasionalmu. Mengaduk-aduk. Mengacak-acak. Mengais. Menyisirnya dengan kuku-kuku jariku. Mencari sisa-sisa memory didalamnya tentang mahluk hina yg sesaat tadi kau tatap namun kembali kau acuh berpaling pandang.

Telah lenyapkah kewarasanmu? Katamu. Pesakitankah engkau? Kembali kau berucap.
Telah lenyapkah kewarasan dunia? Dunia yg menciptakan seorang pesakitan! lalu mencuci-sucikan tangannya tak ingin di salahkan! Teriakku lantang mengeluh lirih...

Keegoisan macam apa kau? Katamu.
Lantas keegoisan macam apa kalian?! Kataku. Keegoisan macam apa manusia yg hanya sudi mengeluh berisak tangis meraba rasa memahami dirinya sendiri?! Kembali kuberseru.

Gila! System rasio syaraf otakmu rusak total! Hey, sadarlah nak. Kembalikanlah kewarasanmu... Katamu lagi dengan nada iba kebijaksanaan seakan memohon, namun terselubung keangkuhannya atas kebanggaan rasionalitas kewarasan.

Kewarasan macam apa yg kau maksud?! Menjadi sewaras kalian yg penuh kewibawaan? Bernada imitasi keibaan? Dan berbangga diri atas rasionalitas tanpa pemahan rasa dan kepekaan?! Menjadi sewaras kalian, lalu dengan angkuhnya memaki-hakimi kaum minoritas pesakitan dengan kewarasan yg kalian agungkan?!

Dengan bijaknya Kau menyuruhku membuka sepasang mata yg telah lama kubiarkan sembab. Tapi pernahkah Kau sungguh-sungguh membuka kelopak dadamu sendiri dan membiarkan retina hatimu menatap?!
Rabalah... Raba setiap inci dari pedih perih hati kami. Hiruplah... Hirup setiap hembus nafas kotor dari sesak paru-paru kami. Dan kenakanlah... Kenakan hawa dingin sepi menggigil tubuh kami. Lalu mulailah rasakan jiwa & kewarasanmu memudar. Terurai. Tercabik-cabik. Tersayat. Terbuai digerogoti perlahan oleh sensasi rasa candu pesakitan! Nikmat bukan?
Bukan. Bukan hanya rasakan. Tapi menjadi. Bukan hanya berandai. Tapi persis sama menjelma. Ya, menjelmalah layaknya seorang pesakitan seperti kami. Seperti aku! Mampukah kau? Sudikah engkau? Kubertanya penuh harap. Sungguh berharap...

Jadi, Sebandingkah Ego keras kepala pesakitan ini dengan ego rasionalitas kalian? Pantaskah adanya kasta pengimbang kesetaraan?
Aku yg merajut untaian benang kata lalu ciptakan tanya dan kembali meratap menantikan jawaban getir darimu...
Menjawablah... Apapun... Ya, seperti itu... Kembalilah menjawab. Dan teruslah menjawab wahai kaum mayoritas waras !!!



REALISTIS Vs. MIMPI

Sebenarnya tulisan ini hanyalah sebuah opini dan pandangan saya tentang 2 kata yg menjadi judul di atas. Realistis & Mimpi.

Pernah saya berdebat dan beradu argumen dengan salah seorang kenalan saya tentang cara pandang saya dan kenalan saya itu yg memang saling bertolak belakang satu sama lain. Perdebatan ini di awali ketika kenalan saya itu membalikkan kata-kata saya dengan kalimat yg bertentangan dengan cara pandang saya tentang kehidupan.

"Ngejalanin hidup mah ga usah yg muluk-muluk, realistis aja! Kita hidup di dunia nyata, bukan di dalam mimpi!"

saya sangat tidak terima dengan kata-katanya itu. Dan dari situlah akhirnya melahirkan sebuah opini dan pandangan baru buat saya. Sebuah pandangan terhadap masyarakat pada umumnya yg telah memperlakukan sebuah kata "REALISTIS" dengan cara dan tujuan yg salah!

Kebanyakan orang pd umumnya sering menjadikan sebuah kata "REALISTIS" sebagai batasan bagi dirinya sendiri untuk untuk bisa lebih maju dan berkembang. Anda boleh tidak setuju dan menyalahkan pendapat saya.

Tapi cobalah anda perhatikan, banyak dari bagian masyarakat kita (Indonesia) yg sebenarnya terlalu pasrah dan terlalu cepat untuk berkata "Cukup" dengan keadaan mereka saat ini. Dan dengan atau tanpa mereka sadari sering menggunakan kata "REALISTIS" sebagai sebuah judgement atas keinginan dari seseorang atau pun diri mereka sendiri yang mereka pandang tidak masuk akal. Dan contoh kecil yg bisa kita ambil adalah kata-kata dari kenalan saya yg saya ceritakan tadi.

Waktu itu saya sedang menjelaskan tentang impian dan cita-cita saya yg mungkin disaat itu di pandang terlalu muluk, terlalu bermimpi, terlalu berhayal tinggi, dan mungkin masih banyak kata-kata "TERLALU" lainnya yg dia jadikan sebuah stempel di jidat saya. Bahkan kenalan saya itu tertawa ketika saya berkata:
"Hidup berawal dari mimpi!"
dan mungkin anda pun saat ini sedang tertawa membaca kalimat bodoh itu. Saya akan berikan 1 contoh "real" dari sejarah yg mendukung pendapat saya ini.

Apakah anda tahu penemu pesawat terbang? (mungkin anda bisa langsung mengerti kemana arah pembicaraan saya) Saat itu Wright bersaudara melihat burung dilangit, dan disaat itu jg mereka berimajinasi, dan berhayal akan sesuatu yg tidak mungkin terjadi di jaman itu.
"seandainya aku bisa terbang dilangit seperti burung"
Dan sekarang anda bisa melihat sendirikan, apa yg telah mereka hasilkan dengan impian dan khayalan mereka itu.

Saya sering sekali di tegur oleh orang-orang disekitar saya, karna kebiasaan saya yg di pandang buruk oleh mereka. Berkhayal, berimajinasi, dan berandai-andai. Ok, mungkin itu bisa menjadi sebuah kebiasaan buruk. Tapi tahukah anda? Kebiasaan buruk yg saya lakukan itu bisa menjadi sebuah hal yg positif jika kita punya tekad yg kuat, dan niat yg positif jg tentunya. Kebenaran pernyataan saya tadi silahkan anda jawab sendiri di hati anda masing-masing.

Selain kata "REALISTIS" ada 1 kata lagi yg sebenarnya sering di salah artikan oleh masyarakat umum, yaitu "MIMPI"

Mungkin saya tidak terlalu menekankan masalah yg ini. Tapi yg jelas masyarakat pada umumnya sering mengkaitkan kata "Mimpi" dan "Impian" menjadi 1 arti. Arti kata mimpi sebenarnya adalah alam bawa sadar kita saat tidur. Sedangkan Impian bisa juga di sama artikan dengan keinginan di dlm hati atau cita-cita. Jadi jelas bahwa ke dua kata di atas memiliki pengertian yg berbeda.

Saya tahu anda pasti bertanya-tanya, lalu kenapa saya masih menggunakan kata mimpi seperti yg telah saya katakan sebelumnya bahwa "kehidupan berawal dari mimpi" Sebenarnya saya menggunakan kata "mimpi" di kalimat itu sebagai sebuah perumpamaan atau sejenis metafora untuk bisa mewakili kata impian, dan cita-cita. Dikarnakan masyarakat pada umumnya yg selalu menyama artikan ke 2 kata tersebut.

Tujuan saya sebenarnya hanya ingin meluruskan arti dan makna ke dua kata yg di jadikan tema untuk tulisan saya ini. Itulah sebabnya kenapa saya menjadikan kata REALISTIS & MIMPI sebagai judul tulisan ini.

Tapi saya masih belum bisa lepas dari sekumpulan pertanyaan-pertanyaan di kepala saya. Atau mungkin lebih tepatnya sekumpulan pertanyaan-pertanyaan bodoh yg terus berputar-putar di dalam batok kepala saya. Mengapa orang-orang selalu menggunakan sebuah kata "REALISTIS" sebagai acuan tentang kemampuan orang lain dan diri sendiri sebelum mereka mencoba? Dan kenapa impian, khayalan, imajinasi, dan hal-hal yg bersifat tidak/belum "real", "terjadi", "pasti", selalu di anggap buruk dan negatif oleh masyarakat pada umumnya? Apakah dampak sebuah imajinasi dan khayalan sebegitu mengerikannya di mata masyarakat sehingga di pandang negatif? Apakah sebuah kata "Realistis" adalah sebuah kata kunci yg begitu hebatnya sehingga bisa di jadikan sebuah tameng oleh orang-orang yg menganggap impian hanyalah sekumpulan dari kembang tidur saat kita terlelap? (yg pada dasarnya sudah sangat jelas bahwa Mimpi dan Impian memiliki arti yg berbeda) Dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan bodoh semacam itu yg tidak mungkin saya paparkan satu persatu.

Sebenarnya yg paling ingin saya tanyakan adalah: yang manakah di antara ke dua hal tersebut yg menjadi pedoman dan jati diri anda? Seseorang yg selalu menimbang segala sesuatu dengan kata Realistis? Ataukah seseorang yg selalu mengawali sebuah niatan, tindakan, dan gerakan untuk maju dengan Impian, khayalan, dan imajinasi?

Silahkan anda mengkritik, mencela, mencaci, mengomentari, apa pun yg ada di dalam tulisan dan opini saya ini. Saya hanya ingin bertukar pemikiran dan pendapat dengan anda yg telah membaca tulisan saya ini. Jadi sekali lagi, saya persilahkan kepada anda untuk memberikan pendapat apa pun untuk tulisan dan opini saya ini.

Tidak lupa saya ucapkan terima kasih yg sebesar-besarnya kepada anda yg telah sudi membaca tulisan saya yg buruk dan mungkin membosankan ini. Saya sangat berharap tulisan saya ini sedikit banyaknya bisa berguna untuk anda.
Sekali lagi saya ucapkan Terima Kasih ^_^