Kamis, Juli 01, 2010

DI UJUNG MENARA NIHIL

Duduk beralas tapak kaki siku menyiku

Langit telah meremang sejak 7 jam yang lalu
Sejenak tersinggahi bulir-bulir tangis awan kelabu
Redupkan kerlip cangkang gemintang tiada kemilau


Merenung ku terpaku di puncak teratas menara nihil ini

Jutaan gemintang mungkin telah turun berpindah menghuni bumi
Kerlip warna warni berserak terpampang dari atas sini
Memang malam tiada mampu lelapkan sekaligus semua insani


Sepasang sayap hitamku merengkuh raga bergeming diterpa angin mendung

Para penghuni malam telah pecahkan sunyi senyap yang terbendung
Pekat-pekat gelap bagai tertikam perlahan pijar lampu-lampu menggantung
Walau tetap ada segelintir jendela meredup dengan si empu berselimut beton terlindung


Aku masih di atas sini
dengarkan denting dawai malam yang belum terbungkam

Masih termangu di atas sini
saksikan theater malam yang belum terpejam

Dan mungkin masih bertopang dagu di ujung menara nihil ini
sampai fajar menikam malam larutkan kelam

Tidak ada komentar: