Jumat, Juli 03, 2009

EGO PESAKITAN !

Biarkan saja tubuh ringkih ini mengeras terbujur lalu terdiam kaku meringkuk. Dingin menggigil merajam menanti lembabnya ruang hampa sepi menjadikan mayat hidup ini membusuk!

Hey, enyahlah kau sosok-sosok bising! Apa pula yg kalian pikirkan tentang zombie rapuh yg sesaat tadi mengisi lingkaran-lingkaran hitam bening matamu dengan keibaan tanpa sudi meraba rasa?! Maling kelas teri yg seenaknya bisa kalian hakimi!

Hening...

Hening...

Hening...

Terdiam? Kenapa kini hanya keheningan yg membungkus pita suara kalian?!
Kau. Ya, kau! Berujarlah sesuatu. Apa pun. Karena jika kubisa, Inginku pecahkan tempurung berbahan serupa gading berbulu penutup otak rasionalmu. Mengaduk-aduk. Mengacak-acak. Mengais. Menyisirnya dengan kuku-kuku jariku. Mencari sisa-sisa memory didalamnya tentang mahluk hina yg sesaat tadi kau tatap namun kembali kau acuh berpaling pandang.

Telah lenyapkah kewarasanmu? Katamu. Pesakitankah engkau? Kembali kau berucap.
Telah lenyapkah kewarasan dunia? Dunia yg menciptakan seorang pesakitan! lalu mencuci-sucikan tangannya tak ingin di salahkan! Teriakku lantang mengeluh lirih...

Keegoisan macam apa kau? Katamu.
Lantas keegoisan macam apa kalian?! Kataku. Keegoisan macam apa manusia yg hanya sudi mengeluh berisak tangis meraba rasa memahami dirinya sendiri?! Kembali kuberseru.

Gila! System rasio syaraf otakmu rusak total! Hey, sadarlah nak. Kembalikanlah kewarasanmu... Katamu lagi dengan nada iba kebijaksanaan seakan memohon, namun terselubung keangkuhannya atas kebanggaan rasionalitas kewarasan.

Kewarasan macam apa yg kau maksud?! Menjadi sewaras kalian yg penuh kewibawaan? Bernada imitasi keibaan? Dan berbangga diri atas rasionalitas tanpa pemahan rasa dan kepekaan?! Menjadi sewaras kalian, lalu dengan angkuhnya memaki-hakimi kaum minoritas pesakitan dengan kewarasan yg kalian agungkan?!

Dengan bijaknya Kau menyuruhku membuka sepasang mata yg telah lama kubiarkan sembab. Tapi pernahkah Kau sungguh-sungguh membuka kelopak dadamu sendiri dan membiarkan retina hatimu menatap?!
Rabalah... Raba setiap inci dari pedih perih hati kami. Hiruplah... Hirup setiap hembus nafas kotor dari sesak paru-paru kami. Dan kenakanlah... Kenakan hawa dingin sepi menggigil tubuh kami. Lalu mulailah rasakan jiwa & kewarasanmu memudar. Terurai. Tercabik-cabik. Tersayat. Terbuai digerogoti perlahan oleh sensasi rasa candu pesakitan! Nikmat bukan?
Bukan. Bukan hanya rasakan. Tapi menjadi. Bukan hanya berandai. Tapi persis sama menjelma. Ya, menjelmalah layaknya seorang pesakitan seperti kami. Seperti aku! Mampukah kau? Sudikah engkau? Kubertanya penuh harap. Sungguh berharap...

Jadi, Sebandingkah Ego keras kepala pesakitan ini dengan ego rasionalitas kalian? Pantaskah adanya kasta pengimbang kesetaraan?
Aku yg merajut untaian benang kata lalu ciptakan tanya dan kembali meratap menantikan jawaban getir darimu...
Menjawablah... Apapun... Ya, seperti itu... Kembalilah menjawab. Dan teruslah menjawab wahai kaum mayoritas waras !!!



Tidak ada komentar: