Kamis, Juli 09, 2009

CATATAN MENANTI FAJAR

Kembali terjaga...?

Bahkan secangkir candu pesakitan yang kuhirup lalu meresap bersama sepi, jauh lebih mujarab dari 10.000 gram zat cafein dalam sebaskom Espresso murni!

Jauh lebih pahit dari 10 karung biji kopi luwak yang kau garang hingga kelang!

1000 kali lipat lebih ampuh mengatasi sepasang matamu yang letih, untuk tetap terjaga hingga puluhan purnama berganti!


. . . . . . .


Purnama...?

Hey, kau matahari malam! Berhenti menatapku dengan keangkuhan parasmu yg pucat! Tidakkah cukup kesunyian malam menertawai kerapuhan hina jasad hidupku yang tanpa jiwa!? Belum cukupkah kau mengutus anak-anak cahayamu menelanjangiku setelah puas mengintipi dari sela-sela gordyn jendela & hatiku!?

Kumohon... hentikan tatapan dingin keangkuhanmu yang merajam asa. Bahkan kau tak sudi menyampaikan secarik pesan sepiku untuknya. Pesan rindu mengukir perih bertinta merah dari puing hati yang tersisa...

Ya, pesanku untuknya. Untuk dia yang kini terlelap terbuai mimpi diranjang nyaman kebesarannya merajut cinta & cita.


Lalu mengapa disini hanya aku...?

Aku yang merelakan tetesan peluh mengering perih di dalam sepasang mata yang letih terjaga...

Aku yang kembali mencerna secangkir pesakitan melucuti kewarasan dan asa...

Aku yang setia merapuh begitu pasrah menemani malam hingga terlelap...

Dan hanya Aku disini...
Yang kembali terjaga begitu jengah menantikan Fajar mengusir Rembulan...

Tidak ada komentar: