Biar kucatat! Memoar realitas...
Wah, Sarapan telah siap! Apa menu pagi ini? Sepiring retak harapan usang? Sepotong impian basi tanpa realisasi yang telah berkali-kali di hangatkan? Atau, hanya secangkir peluh pekat tanpa hasil dari tulang-tulang yang kubanting?
"Mak, aku lapar"
"Sebentar nak, raskin* ini belum tanak"
"Jangan kau perbudak Ibumu, pemalas!"
"Baik, Pak"
"Dimana teman-teman kebanggaanmu, pemalas?!"
"............."
"Sombongnya kau sebut kawan. Giliran jatuh, kembali ke Bapakmu!"
"Maaf, pak"
"Kerjamu hanya beralas malas, pemalas!"
"Sekali lagi maaf, pak...."
Bolehkah aku teriak...?
Di luar sana mentari telah tinggi. Menikam ubun-ubun para kepala dengan seperangkat rutinitas. Hanya aku yang berteduh bagai dungu relakan otak beku tak mengepul tanpa aktifitas.
"Mak, apa makan siangnya?"
"Raskin tanakmu diatas meja, nak. Sisakan untuk adikmu!"
"Adik kemana, Mak?"
"Sedang mengasah otaknya didalam jejeran gedung ilmu yang kau sebut sekolah"
"Bapak kemana, Mak?"
"Sedang mengais semen dan pasir, lalu memperkerjakan martilnya memukili tembok rumah kita, Nak"
"Mak, mana lauknya?"
"Impian usangmu sedang Emak panaskan, Nak..."
"............"
Mendung...
Hujan...
Hujan.....
kembali bulir-bulir air langit bersetubuh dengan tanah sore ini. Lunturkan debu-debu, tapi tidak ego-ego manusia itu. Bukankah mahkluk-mahkluk berlogika tak ingin lagi menganak-sungaikan hati yang beku...?
"Nak, lipat baju-bajumu"
"Sebentar Mak"
"Nak, rapikan kamarmu!"
"Nanti Mak"
"Nak, sudah hampir gelap. Tutup gordyn dan jendela-jendela itu!"
"Tidak ada jendela dirumah ini, Mak"
"Ya, begitu juga hatimu, nak..."
".............."
Sudut-sudut ruang mulai meremang, mengundang para jangkrik mengamen riang. Malam-malamku hanya menatap kosong tumpukan bata-bata melebur tembok tanpa kulit semen dan cat.
Bukan. Bukan hanya rumah ini yang butuh renovasi, bahkan mimpi-mimpi semu-ku tak terrealisasi.
Tidak ada manik-manik berkilau dilangit malam ini. Tatapan rembulan pun seperti malu.
Bulan, ganggulah aku malam ini...
"Tolong! awan mendung halangi pandanganku..."
"Berisik...!"
"..........."
Semilir angin, indah menari-nari...
Lalaa...Laa...
Termenung bocah autis ini menahan gigil udara malam merajam pori-pori dekil.
"Mak, mana makan malamku?"
"Mandilah dulu, Nak"
"Mak, mana sumurnya?"
"Ada dibalik dadamu, Nak"
"Mak, aku lapar"
"Ini mimpimu, sudah Emak hangatkan..."
".............."
Semua sudut ruang seperti Bus dan Metromini sunyi yang strategis bagi Jangkrik-jangkrik malam ber-serenade...
Nina bobo, O Nina bobo...
Zz...
Zzz....
Zzzz....
Hooaamh....
Oh tidak! Kujumpai kembali tubuh malas ini menggeliat dalam sarung lusuh. Dan... ada usaha jengah menyimpul senyum kembali menyambut pagi disana. Oh Tuhan, apakah harus kembali kubuka katup retinaku?
Hey, tunggu! Biar kutebak. Sepertinya aku tahu kelanjutannya...
Memoar realitas...?
".........."
-TAMAT?-
(*raskin=beras miskin)
