Rabu, November 25, 2009

Project Prosa Cacat: RENOVASI MIMPI.

    Kujumpai tubuh malas ini menggeliat dalam sarung lusuh. Ada usaha jengah menyimpul senyum menyambut pagi disana. Katup retinaku terbuka melahap seisi ruang penuh berserakan; buku, baju, asbak penuh, debu, bahkan seeokor kecoa bergaya tanpa nyawa terbujur kaku, ikut andil hiasi sudut ruang yang enggan kusebut kamar-Ku...
    Biar kucatat! Memoar realitas...

    Wah, Sarapan telah siap! Apa menu pagi ini? Sepiring retak harapan usang? Sepotong impian basi tanpa realisasi yang telah berkali-kali di hangatkan? Atau, hanya secangkir peluh pekat tanpa hasil dari tulang-tulang yang kubanting?

    "Mak, aku lapar"
    "Sebentar nak, raskin* ini belum tanak"
    "Jangan kau perbudak Ibumu, pemalas!"
    "Baik, Pak"
    "Dimana teman-teman kebanggaanmu, pemalas?!"
    "............."
    "Sombongnya kau sebut kawan. Giliran jatuh, kembali ke Bapakmu!"
    "Maaf, pak"
    "Kerjamu hanya beralas malas, pemalas!"
    "Sekali lagi maaf, pak...."

    Bolehkah aku teriak...?


    Di luar sana mentari telah tinggi. Menikam ubun-ubun para kepala dengan seperangkat rutinitas. Hanya aku yang berteduh bagai dungu relakan otak beku tak mengepul tanpa aktifitas.

    "Mak, apa makan siangnya?"
    "Raskin tanakmu diatas meja, nak. Sisakan untuk adikmu!"
    "Adik kemana, Mak?"
    "Sedang mengasah otaknya didalam jejeran gedung ilmu yang kau sebut sekolah"
    "Bapak kemana, Mak?"
    "Sedang mengais semen dan pasir, lalu memperkerjakan martilnya memukili tembok rumah kita, Nak"
    "Mak, mana lauknya?"
    "Impian usangmu sedang Emak panaskan, Nak..."
    "............"


    Mendung...
    Hujan...
    Hujan.....
    kembali bulir-bulir air langit bersetubuh dengan tanah sore ini. Lunturkan debu-debu, tapi tidak ego-ego manusia itu. Bukankah mahkluk-mahkluk berlogika tak ingin lagi menganak-sungaikan hati yang beku...?

    "Nak, lipat baju-bajumu"
    "Sebentar Mak"
    "Nak, rapikan kamarmu!"
    "Nanti Mak"
    "Nak, sudah hampir gelap. Tutup gordyn dan jendela-jendela itu!"
    "Tidak ada jendela dirumah ini, Mak"
    "Ya, begitu juga hatimu, nak..."
    ".............."


    Sudut-sudut ruang mulai meremang, mengundang para jangkrik mengamen riang. Malam-malamku hanya menatap kosong tumpukan bata-bata melebur tembok tanpa kulit semen dan cat.
Bukan. Bukan hanya rumah ini yang butuh renovasi, bahkan mimpi-mimpi semu-ku tak terrealisasi.

    Tidak ada manik-manik berkilau dilangit malam ini. Tatapan rembulan pun seperti malu.
Bulan, ganggulah aku malam ini...

    "Tolong! awan mendung halangi pandanganku..."
    "Berisik...!"
    "..........."


    Semilir angin, indah menari-nari...
    Lalaa...Laa...
    Termenung bocah autis ini menahan gigil udara malam merajam pori-pori dekil.

    "Mak, mana makan malamku?"
    "Mandilah dulu, Nak"
    "Mak, mana sumurnya?"
    "Ada dibalik dadamu, Nak"
    "Mak, aku lapar"
    "Ini mimpimu, sudah Emak hangatkan..."
    ".............."

    Semua sudut ruang seperti Bus dan Metromini sunyi yang strategis bagi Jangkrik-jangkrik malam ber-serenade...

    Nina bobo, O Nina bobo... 
    Zz...
      Zzz....
        Zzzz....


    Hooaamh....
    Oh tidak! Kujumpai kembali tubuh malas ini menggeliat dalam sarung lusuh. Dan... ada usaha jengah menyimpul senyum kembali menyambut pagi disana. Oh Tuhan, apakah harus kembali kubuka katup retinaku?
    Hey, tunggu! Biar kutebak. Sepertinya aku tahu kelanjutannya...
Memoar realitas...?

    ".........."


-TAMAT?-




(*raskin=beras miskin)

Minggu, November 15, 2009

BUKAN

Bagai,
cinta itu tanpa jeda...

Bukan henti seketika
jengah hati menghambar rasa...


Cinta itu tersirat
tiada melantun ayat...

Bukan sekedar kata menguap udara
lalu hati hirup melega...


Seperti cinta itu tanpa lelah...

Bukan mengiba munafik rasa
namun suci terajam resah...


Cinta itu,
indahnya ikhlas merasa bagai tahta hati bermahkota...

Bukan seperangkat paksa merajam asa peradang ego kelam bersinggahsana!

Senin, November 09, 2009

TIADA ARAH

Terayuh gontai
hampa pijak melangkah...

Paru-paru sesak
ruang nafas munafik!

Sayu tatap meredup,
baring beralas malas...

Adakah guna menyepi hampa?

Ku bagai kopong
tengkorak kosong tak berotak...

Tak lagi pijak terayuh...
Tiada arah kaki menyiku...

Kamis, Oktober 22, 2009

UKIRAN KARYA HATI

Genggaman jemari
mengukir tiap kata alunan nada suara hati...


Menuang tiap tawa ceria
dan retina mata yang menganak sungai...


Ukiran peraba rasa
meraut senyum manis dan tangis melirih getir seirama hati...


Tersebut yang terkasih lalu terbenci,
atau pun terbenci lalu terkasih...


Ya, akulah pengukir goresan dunia kisah hati...

UKIRAN KARYA HATI...


LELUCON REMBULAN. (Catatan Menanti Fajar 2)

Malam ini sungguh cerah merekah hitam tanpa bintang
beralas hamparan pekat-pekat kelam berhias cahaya bulatan pucat sempurna tanpa rona
yang bagai menatapku penuh keji merajam berparas raut keangkuhan...

Tersebutlah kau bulan...

Hey, tidakkah kau sadar betapa tatapan hinamu sungguh konyol, mentari malam...?!
Untuk apa wajah pucat cahayamu dalam temaram kembali mengundang hadir bayang kelam masa menggelikan...!?

Ingatkah kau kata-kata bodoh bidadari kehausan birahi itu tentangmu?
"Saat kau tak disisi Ku, hanya mampu ku pandang rembulan dan berharap kau pun menatapnya...."

Hmm...

Dan tahukah kau...?
Sungguh kini ingin kuledakkan tawa mual terbahak menggores lukai kerongkonganku hingga muntah darah sampai nanah...!

Hahaha...!

Tidakkah lelucon kisah cinta ironisasi romantika mahluk-mahluk hina ini sungguh konyol wahai purnama...?

Jadi...
Bolehkah kukembali terpingkal sampai kau puas?!

Haha...
Hahaha...
Hahahaha...

Atau...
Kau turun kemari temani aku mabuk arak tawa kegilaan lalu bersama nikmati lelucon konyol tentang rembulan hingga membusuk oleh jengah...!!!

Senin, Agustus 31, 2009

KENAPA CINTA...???

Cerah,
mendung lagi meresah,
kembali ceria,
lalu merintih gelisah,
dan mulai lagi bahagia....

Kini tanya...
Kenapa tersebut cinta?
Waktukah perajut cinta?
Terbilang lagi kata cinta...
Kembali menjelmalah sosok pecinta...

Oh, Wajahku memerah...
Perutku mulas seketika mereda...
Maaf, ini bukan mual menghina...
Lalu apa...?
Permisi, aku sungguh mau muntah....

. . . . . . . . .


Kuterpaku diam termenung lirih...
Ataukah terpanah haru dengar jangkrik malam merintih?
Kenapa merdunya mendayu berkemasan sunyi?
Bagai seruas tulang rusuk menggesek biola melantunkan nada sumbang menyayat untuk ruang dengarku menyepi....

Hey, kaca cerminku seperti merefleksi raut bergeming bocah autis...?
Berkata terbata mencoba kritis...
Lantas, kenapa keyakinanku seperti mau tipis...?
TOLOL! Aku bukan atheis...!
Hanya belajar mencinta lalu melankolis...

Jadi, kenapa debar jantung pindah ke hati?
Lelah bernafas di pangkas berlari...
Menggebu mengejar cinta, lalu perlahan berjalan tertatih...
Seketika menghantam cumbui tanah merangkak perih...
Lalu tergema bising teriakan lantang mau bangkit ingin hadapi kembali...
Tapi kenapa pedih menikam tajam di rajam cinta terjatuh lagi...?
Coba bangun lagi,
terkapar lagi...
Begitu lagi,
dan lagi...
Sungguh Letih...!

Hey, bocah idiot terbelakang mental penyiksa diri...!
Hentikan helaan nafas ratapan lirih...!
Teruslah bergerak bagai keras kepala tak berotak hingga rentah usiamu putuskan nadi...!!!

MANUSIAWIKAH MANUSIA???

MANUSIA....

Seperangkat tulang belulang bergelantungan jerowan,
berbungkus onggokan daging mentah kelaparan,
berjubah kemasan rakus ketamakan,
berbangga tahta mahkota keegoisan...!!!

MERAJUT KISAH

Kumohon...
Biarkan retak buyar memuing sebuah masa tertinggal berlalu dipunggungmu yg kau sebut KISAH...

Kumohon...
Biarkan ruang dengarku tergema alunan nada lidahmu selaras hatimu seirama...

Kubersimpuh memohon...
Mulailah kembali merajut untaian kisah jika pun kau sudi kudampingin mengejar mimpi menggapai cita...

Jadi, kumohon...
Terimalah sosok kehinaan sepi ini merengkuh erat hangatkan luka menggigil hatimu yg meringkuk jengah...

Rabu, Juli 22, 2009

SENYUMMU KUTANYA, LUKAKU BERTANYA

*)Kembali berkomedi demi dunia...


Kembali mengukir senyum mengembang tawa untuk semua...

Benarkah kita tulus mengajak dunia ikut tersenyum lalu tertawa...?

Ataukah hanya kedok keimitasian penutup luka duka dan lara...




Lalu, apa bedanya dengan senyum kemunafikan?

Adakah luka menganggap tawa sebagai kepalsuan?

Salahkah kusebut keimitasian?

Katamu hidup harus berjalan...

Ya, walau getir harus di telan!




Hey, aku bukan penghujat yang mencaci memaki, hanya bertanya...

Walau terkandang kembali mengeluh mencari tahu dari sekumpulan tanya...

Bukankah dunia persinggahan mahkluk-mahkluk bertanda tanya?

Perajut kalimat tanya bertanda tanya...

Lantas, salahkah senyummu kutanya?

Dan salahkah lukaku bertanya...?






*)Puisi ini terinspirasi dari kutipan kalimat seorang sahabat yg bersembunyi di balik nama:


AKU DAN PUISI

.

Selasa, Juli 21, 2009

WUJUD RASA BERWARNA TANPA NAMA

Kelabu...
Abu-abukah aku?
Bukan hitam. Sekali pun putih tak menyaru...

Atau bukan. Kelabu bahkan tak sebegitunya kelam...
Mungkinkah aku hitam?
Kadang rautnya keji tersirat kejam...
Adakah ini warna gelap dendam silam?
Namun Bukan. Ini bukan warna malam...

Lalu aku apa? Hanyalah warna tanpa cerah...
Mungkinkah aku merah?
Warna benci menyala penuh amarah!
Panas membara memerah-gerah!
Bagai jutaan noktah luka menyaru darah!
Ya, mungkin nyaris sama walau kujengah....

Tapi... bahkan merah pun tak sebegitunya kelam...
Lebih gelap walau bukan hitam...
Warna inikah rasa luka terpupur garam?
Pedih mendidihkan darah ingin menggeram...!
Warna keiblisan yg terlahir bagai anak haram, ingin merajam...!!!

Jadi, ini apa?
Hanyalah warna tanpa indah...
Ini bukan warna!
Bahkan warna tak sanggup merasa...
Lalu, aku apa?
Hanyalah si Tanpa Nama...
Ataukah si wujud hina?
Aku bukan sampah!
Bahkan noda punya nama...

. . . . . . .


Jadi disini, aku ada...
Mungkinkah?
Lalu, aku kian meresah...
Semestinyakah?
Lantas, kubertanya...
Maukah?
Aku, panggillah, maka tersebutlah...
Aku, Si Wujud Rasa Berwarna Tanpa Nama....

Sabtu, Juli 11, 2009

EFEK KESETIAAN SEPI

Pernahkah kau meringkuk dingin menggigil di sekujur tubuhmu tapi bukan karena cuaca atau pun demam?

Pernahkah kau merasakan seluruh rongga dadamu terasa begitu sesak merajah, tapi bukan karena asma atau pun penyumbatan saluran nafas?

Pernahkah ke dua matamu selalu terjaga di setiap malam walau letih tubuhmu meronta-ronta memohon dirimu untuk terlelap?

Pernahkah detik-detitk waktu terasa bagai silet menyayat pedih tiap inci hatimu yang semakin hampa penuh kekosongan?

Dan pernahkah kau menyadari keramaian & kebisingan di telingamu yang memekakan bahkan tidak sanggup mengusir rasa sepi & kesunyian yang perlahan menggerogoti jiwa & kewarasan?

Jika komplikasi tiap rasa itu kau jawab dengan lantang, "PERNAH...!!!"

Ya, itulah Efek Kesetiaan dari Sepi...

Kamis, Juli 09, 2009

CATATAN MENANTI FAJAR

Kembali terjaga...?

Bahkan secangkir candu pesakitan yang kuhirup lalu meresap bersama sepi, jauh lebih mujarab dari 10.000 gram zat cafein dalam sebaskom Espresso murni!

Jauh lebih pahit dari 10 karung biji kopi luwak yang kau garang hingga kelang!

1000 kali lipat lebih ampuh mengatasi sepasang matamu yang letih, untuk tetap terjaga hingga puluhan purnama berganti!


. . . . . . .


Purnama...?

Hey, kau matahari malam! Berhenti menatapku dengan keangkuhan parasmu yg pucat! Tidakkah cukup kesunyian malam menertawai kerapuhan hina jasad hidupku yang tanpa jiwa!? Belum cukupkah kau mengutus anak-anak cahayamu menelanjangiku setelah puas mengintipi dari sela-sela gordyn jendela & hatiku!?

Kumohon... hentikan tatapan dingin keangkuhanmu yang merajam asa. Bahkan kau tak sudi menyampaikan secarik pesan sepiku untuknya. Pesan rindu mengukir perih bertinta merah dari puing hati yang tersisa...

Ya, pesanku untuknya. Untuk dia yang kini terlelap terbuai mimpi diranjang nyaman kebesarannya merajut cinta & cita.


Lalu mengapa disini hanya aku...?

Aku yang merelakan tetesan peluh mengering perih di dalam sepasang mata yang letih terjaga...

Aku yang kembali mencerna secangkir pesakitan melucuti kewarasan dan asa...

Aku yang setia merapuh begitu pasrah menemani malam hingga terlelap...

Dan hanya Aku disini...
Yang kembali terjaga begitu jengah menantikan Fajar mengusir Rembulan...

Sabtu, Juli 04, 2009

BAYANGKAN! (Sebuah Perenungan Masa)

~Bayangkan!
Tidak perlu kau ingat, cukup bayangkan!
Tiap inci dari pijak langkah yg telah kau lalui di hari ini, kemarin, dan di setiap detik dari masa lalu.

~Tidak perlu kau ingat, cukup bayangkan!
Setiap jengkal dari perih, & pedih begitu lirih dari keresahan masa yg begitu enggan kau ungkit dan tak sudi lagi kau rasakan kini.

~Tdk perlu kau coba mengingat, Cukup bayangkan!
Segala hal yg membawa manis'y sebuah senyuman menghampiri parasmu yg saat ini menatap kosong mencoba mengerti.

~Ku terus memohon jangan mengingat, cukup kau bayangkan!
Setiap bagian dari mimpi & harapan yg tercipta begitu sempurna untuk masa yg belum kau hadapi tapi tetap teguh kau yakini.

~Bagus... Sekarang kau benar-benar jengah dengan kata yg akan kembali terulang...

~BAYANGKAN! JANGAN PERNAH KAU INGAT, CUKUP BAYANGKAN!
Sebuah hari yg baru walau terlihat sama disaat kau membuka matamu dari lelap menyambut mentari tua dan kau sadari setiap tanda tanya dibenakmu akan sekumpulan kata-kata bodoh ini telah sungguh-sungguh kau pahami...

Jumat, Juli 03, 2009

EGO PESAKITAN !

Biarkan saja tubuh ringkih ini mengeras terbujur lalu terdiam kaku meringkuk. Dingin menggigil merajam menanti lembabnya ruang hampa sepi menjadikan mayat hidup ini membusuk!

Hey, enyahlah kau sosok-sosok bising! Apa pula yg kalian pikirkan tentang zombie rapuh yg sesaat tadi mengisi lingkaran-lingkaran hitam bening matamu dengan keibaan tanpa sudi meraba rasa?! Maling kelas teri yg seenaknya bisa kalian hakimi!

Hening...

Hening...

Hening...

Terdiam? Kenapa kini hanya keheningan yg membungkus pita suara kalian?!
Kau. Ya, kau! Berujarlah sesuatu. Apa pun. Karena jika kubisa, Inginku pecahkan tempurung berbahan serupa gading berbulu penutup otak rasionalmu. Mengaduk-aduk. Mengacak-acak. Mengais. Menyisirnya dengan kuku-kuku jariku. Mencari sisa-sisa memory didalamnya tentang mahluk hina yg sesaat tadi kau tatap namun kembali kau acuh berpaling pandang.

Telah lenyapkah kewarasanmu? Katamu. Pesakitankah engkau? Kembali kau berucap.
Telah lenyapkah kewarasan dunia? Dunia yg menciptakan seorang pesakitan! lalu mencuci-sucikan tangannya tak ingin di salahkan! Teriakku lantang mengeluh lirih...

Keegoisan macam apa kau? Katamu.
Lantas keegoisan macam apa kalian?! Kataku. Keegoisan macam apa manusia yg hanya sudi mengeluh berisak tangis meraba rasa memahami dirinya sendiri?! Kembali kuberseru.

Gila! System rasio syaraf otakmu rusak total! Hey, sadarlah nak. Kembalikanlah kewarasanmu... Katamu lagi dengan nada iba kebijaksanaan seakan memohon, namun terselubung keangkuhannya atas kebanggaan rasionalitas kewarasan.

Kewarasan macam apa yg kau maksud?! Menjadi sewaras kalian yg penuh kewibawaan? Bernada imitasi keibaan? Dan berbangga diri atas rasionalitas tanpa pemahan rasa dan kepekaan?! Menjadi sewaras kalian, lalu dengan angkuhnya memaki-hakimi kaum minoritas pesakitan dengan kewarasan yg kalian agungkan?!

Dengan bijaknya Kau menyuruhku membuka sepasang mata yg telah lama kubiarkan sembab. Tapi pernahkah Kau sungguh-sungguh membuka kelopak dadamu sendiri dan membiarkan retina hatimu menatap?!
Rabalah... Raba setiap inci dari pedih perih hati kami. Hiruplah... Hirup setiap hembus nafas kotor dari sesak paru-paru kami. Dan kenakanlah... Kenakan hawa dingin sepi menggigil tubuh kami. Lalu mulailah rasakan jiwa & kewarasanmu memudar. Terurai. Tercabik-cabik. Tersayat. Terbuai digerogoti perlahan oleh sensasi rasa candu pesakitan! Nikmat bukan?
Bukan. Bukan hanya rasakan. Tapi menjadi. Bukan hanya berandai. Tapi persis sama menjelma. Ya, menjelmalah layaknya seorang pesakitan seperti kami. Seperti aku! Mampukah kau? Sudikah engkau? Kubertanya penuh harap. Sungguh berharap...

Jadi, Sebandingkah Ego keras kepala pesakitan ini dengan ego rasionalitas kalian? Pantaskah adanya kasta pengimbang kesetaraan?
Aku yg merajut untaian benang kata lalu ciptakan tanya dan kembali meratap menantikan jawaban getir darimu...
Menjawablah... Apapun... Ya, seperti itu... Kembalilah menjawab. Dan teruslah menjawab wahai kaum mayoritas waras !!!



REALISTIS Vs. MIMPI

Sebenarnya tulisan ini hanyalah sebuah opini dan pandangan saya tentang 2 kata yg menjadi judul di atas. Realistis & Mimpi.

Pernah saya berdebat dan beradu argumen dengan salah seorang kenalan saya tentang cara pandang saya dan kenalan saya itu yg memang saling bertolak belakang satu sama lain. Perdebatan ini di awali ketika kenalan saya itu membalikkan kata-kata saya dengan kalimat yg bertentangan dengan cara pandang saya tentang kehidupan.

"Ngejalanin hidup mah ga usah yg muluk-muluk, realistis aja! Kita hidup di dunia nyata, bukan di dalam mimpi!"

saya sangat tidak terima dengan kata-katanya itu. Dan dari situlah akhirnya melahirkan sebuah opini dan pandangan baru buat saya. Sebuah pandangan terhadap masyarakat pada umumnya yg telah memperlakukan sebuah kata "REALISTIS" dengan cara dan tujuan yg salah!

Kebanyakan orang pd umumnya sering menjadikan sebuah kata "REALISTIS" sebagai batasan bagi dirinya sendiri untuk untuk bisa lebih maju dan berkembang. Anda boleh tidak setuju dan menyalahkan pendapat saya.

Tapi cobalah anda perhatikan, banyak dari bagian masyarakat kita (Indonesia) yg sebenarnya terlalu pasrah dan terlalu cepat untuk berkata "Cukup" dengan keadaan mereka saat ini. Dan dengan atau tanpa mereka sadari sering menggunakan kata "REALISTIS" sebagai sebuah judgement atas keinginan dari seseorang atau pun diri mereka sendiri yang mereka pandang tidak masuk akal. Dan contoh kecil yg bisa kita ambil adalah kata-kata dari kenalan saya yg saya ceritakan tadi.

Waktu itu saya sedang menjelaskan tentang impian dan cita-cita saya yg mungkin disaat itu di pandang terlalu muluk, terlalu bermimpi, terlalu berhayal tinggi, dan mungkin masih banyak kata-kata "TERLALU" lainnya yg dia jadikan sebuah stempel di jidat saya. Bahkan kenalan saya itu tertawa ketika saya berkata:
"Hidup berawal dari mimpi!"
dan mungkin anda pun saat ini sedang tertawa membaca kalimat bodoh itu. Saya akan berikan 1 contoh "real" dari sejarah yg mendukung pendapat saya ini.

Apakah anda tahu penemu pesawat terbang? (mungkin anda bisa langsung mengerti kemana arah pembicaraan saya) Saat itu Wright bersaudara melihat burung dilangit, dan disaat itu jg mereka berimajinasi, dan berhayal akan sesuatu yg tidak mungkin terjadi di jaman itu.
"seandainya aku bisa terbang dilangit seperti burung"
Dan sekarang anda bisa melihat sendirikan, apa yg telah mereka hasilkan dengan impian dan khayalan mereka itu.

Saya sering sekali di tegur oleh orang-orang disekitar saya, karna kebiasaan saya yg di pandang buruk oleh mereka. Berkhayal, berimajinasi, dan berandai-andai. Ok, mungkin itu bisa menjadi sebuah kebiasaan buruk. Tapi tahukah anda? Kebiasaan buruk yg saya lakukan itu bisa menjadi sebuah hal yg positif jika kita punya tekad yg kuat, dan niat yg positif jg tentunya. Kebenaran pernyataan saya tadi silahkan anda jawab sendiri di hati anda masing-masing.

Selain kata "REALISTIS" ada 1 kata lagi yg sebenarnya sering di salah artikan oleh masyarakat umum, yaitu "MIMPI"

Mungkin saya tidak terlalu menekankan masalah yg ini. Tapi yg jelas masyarakat pada umumnya sering mengkaitkan kata "Mimpi" dan "Impian" menjadi 1 arti. Arti kata mimpi sebenarnya adalah alam bawa sadar kita saat tidur. Sedangkan Impian bisa juga di sama artikan dengan keinginan di dlm hati atau cita-cita. Jadi jelas bahwa ke dua kata di atas memiliki pengertian yg berbeda.

Saya tahu anda pasti bertanya-tanya, lalu kenapa saya masih menggunakan kata mimpi seperti yg telah saya katakan sebelumnya bahwa "kehidupan berawal dari mimpi" Sebenarnya saya menggunakan kata "mimpi" di kalimat itu sebagai sebuah perumpamaan atau sejenis metafora untuk bisa mewakili kata impian, dan cita-cita. Dikarnakan masyarakat pada umumnya yg selalu menyama artikan ke 2 kata tersebut.

Tujuan saya sebenarnya hanya ingin meluruskan arti dan makna ke dua kata yg di jadikan tema untuk tulisan saya ini. Itulah sebabnya kenapa saya menjadikan kata REALISTIS & MIMPI sebagai judul tulisan ini.

Tapi saya masih belum bisa lepas dari sekumpulan pertanyaan-pertanyaan di kepala saya. Atau mungkin lebih tepatnya sekumpulan pertanyaan-pertanyaan bodoh yg terus berputar-putar di dalam batok kepala saya. Mengapa orang-orang selalu menggunakan sebuah kata "REALISTIS" sebagai acuan tentang kemampuan orang lain dan diri sendiri sebelum mereka mencoba? Dan kenapa impian, khayalan, imajinasi, dan hal-hal yg bersifat tidak/belum "real", "terjadi", "pasti", selalu di anggap buruk dan negatif oleh masyarakat pada umumnya? Apakah dampak sebuah imajinasi dan khayalan sebegitu mengerikannya di mata masyarakat sehingga di pandang negatif? Apakah sebuah kata "Realistis" adalah sebuah kata kunci yg begitu hebatnya sehingga bisa di jadikan sebuah tameng oleh orang-orang yg menganggap impian hanyalah sekumpulan dari kembang tidur saat kita terlelap? (yg pada dasarnya sudah sangat jelas bahwa Mimpi dan Impian memiliki arti yg berbeda) Dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan bodoh semacam itu yg tidak mungkin saya paparkan satu persatu.

Sebenarnya yg paling ingin saya tanyakan adalah: yang manakah di antara ke dua hal tersebut yg menjadi pedoman dan jati diri anda? Seseorang yg selalu menimbang segala sesuatu dengan kata Realistis? Ataukah seseorang yg selalu mengawali sebuah niatan, tindakan, dan gerakan untuk maju dengan Impian, khayalan, dan imajinasi?

Silahkan anda mengkritik, mencela, mencaci, mengomentari, apa pun yg ada di dalam tulisan dan opini saya ini. Saya hanya ingin bertukar pemikiran dan pendapat dengan anda yg telah membaca tulisan saya ini. Jadi sekali lagi, saya persilahkan kepada anda untuk memberikan pendapat apa pun untuk tulisan dan opini saya ini.

Tidak lupa saya ucapkan terima kasih yg sebesar-besarnya kepada anda yg telah sudi membaca tulisan saya yg buruk dan mungkin membosankan ini. Saya sangat berharap tulisan saya ini sedikit banyaknya bisa berguna untuk anda.
Sekali lagi saya ucapkan Terima Kasih ^_^

Minggu, Juni 07, 2009

Atas Nama Sepi

Seketika alunan nada sumbang kesunyian menyayat ruang hampa pendengaran, pecahkan kebisingan gaduh yg kurindukan....

Begitu jengahnya ku meratap tanpa kata walau terbata....
Terbungkam hening senandungkan nada bisu tanpa suara....
Langkahkan pijak letih tertatih dalam ruang hampa tiada makna....

Kini hati lirih mengeluh, ingin teriakan suara parauku usir semua sepi yg begitu angkuh melantunkan nada sunyi mengusik lelap ku yg letih terjaga!

Lelah mengartikan yg tak ingin dimengerti walau telah lama kupahami....
Gelisah ku meringkuk kaku menyadari yg tak ingin disadari....
Resah kian menggigil tak ingin mendengar tanyaku sendiri....
Mengapa airmata pedih begitu perih kupersembahkan atas nama kesetiaan untuk sepi...?

..........

SEPI TEMAN SETIA

Siapa bilang rasa sepi adalah musuh yg mengerikan?!

Sadarlah betapa setianya sepi menemanimu dsaat pedih, perih, resah, gelisah & airmata mengisi hari-harimu tanpa satu pun sosok yg sudi memahami!

Hanyalah sepi yg begitu mngerti betapa hampanya ruang hati yg merintih!