Duduk beralas tapak kaki siku menyiku
Langit telah meremang sejak 7 jam yang lalu
Sejenak tersinggahi bulir-bulir tangis awan kelabu
Redupkan kerlip cangkang gemintang tiada kemilau
Merenung ku terpaku di puncak teratas menara nihil ini
Jutaan gemintang mungkin telah turun berpindah menghuni bumi
Kerlip warna warni berserak terpampang dari atas sini
Memang malam tiada mampu lelapkan sekaligus semua insani
Sepasang sayap hitamku merengkuh raga bergeming diterpa angin mendung
Para penghuni malam telah pecahkan sunyi senyap yang terbendung
Pekat-pekat gelap bagai tertikam perlahan pijar lampu-lampu menggantung
Walau tetap ada segelintir jendela meredup dengan si empu berselimut beton terlindung
Aku masih di atas sini
dengarkan denting dawai malam yang belum terbungkam
Masih termangu di atas sini
saksikan theater malam yang belum terpejam
Dan mungkin masih bertopang dagu di ujung menara nihil ini
sampai fajar menikam malam larutkan kelam