Selasa, Juli 27, 2010

PENDARMU DALAM IMAJI


Mungkin
pendar-pendar kemilaumu dalam raga
tiada yang mampu ciptakan duga
akan wujud gemulai indahnya...

Namun
jika pun sudi,
relakah sekedar kilaunya terpatri
dalam sudut ruang imaji...?

Kamis, Juli 01, 2010

TEARS OF THE GRAY CLOUD

Tears from the gray cloud of the sky
has been dropped to the ground of the earth.
And now every floor looks too wetly
isn't it?

Can you feel it?
That it's gonna be cool enough right here
(I mean) Deep inside here...

Just hope it's not gonna be freeze anyway.
Only hope my step isn't become so numb on my way.
Really hope every pain is just stay away.
And I fully hope any apologize if I have to go away... :)



Dedicated for:
"a Princess"
(Thanks for loving me...)

BUKAN BERANDAI

Bukan ingin ku berandai.
Tidak pula niat bait semu kurangkai.
Hanya ku bangun harap kau tergapai.
Bersujud memohon pada Nya anganku tercapai.
Hampiri sambut penantian sosokmu melambai.
Selamatkan jiwa sekarat hatimu terkulai.
Lalu kujaga kau dalam dekapku dari terpa bayu beribu badai.

Sungguh, bukan ingin ku berandai...

DRAMA CINTA SEGITIGA

Maaf saja, sayangku...
Ternyata kau bukanlah urutan terwahid satu-satunya yang kucinta.
Sungguh adanya pihak ketiga di antara kita...

Aih, janganlah dulu kau tumpahkan tangis itu.
Janganlah pula kau muramkan paras itu.
Selayaknyalah kita bersama mencintaNya.
Tahukah kau siapa sesungguhnya cinta di antara kita, kasihku?
Ya, Dialah Allah Subhanahu Wa Ta'ala... :)

REMBULAN SEPI

Entahlah
para gemintang mungkin malu berdendang kerlip malam ini

Ataukah sang purnama yang angkuh bercahaya (muram) pucat tunggal walau hanya pinjam sepenggal pendar sang mentari?

Mungkin juga gumpal-gumpal awan pekat yang telah selubungkan tirainya
redupkan kilau-kilau cangkang sang langit

. . . . . . .

Aih, rembulan ternyata
sepi...

PULANG

Ya Rabb...
Semakin harap hamba-Mu hina ini kembali ke tanah kelahiran ku berkadang

Baru dirasa baru terasa...
Di tempatku kini menua dulunya tumbuh mematang,
hanyalah tanah lapang ku pijak rantau bertandang

Aih, Emak...
Inginnya sungguh ku terbang,
atau sedapatnya berenang
pulang...

BUNGA ES

Saputan gemulai kabut
coba membasuh-sapa seonggok hati
Namun
tiada lagi liuk bening mengembun
malah beku mengkristal
bunga es...

GURUN MATA

Walau
lama sembab langit tempias
dan telah koyak payung retina,
tandusnya mata
tetaplah kerontang...

 

Haiku amatir: PEKAT HUJAN

Gerimis hitam
Digiring bayu mendung
Genangi kalbu

My first Haiku: RINGKIH PIJAK PEMIMPI

Pijak ku kaku
Terseok ladang batu
Mengais mimpi

DI UJUNG MENARA NIHIL

Duduk beralas tapak kaki siku menyiku

Langit telah meremang sejak 7 jam yang lalu
Sejenak tersinggahi bulir-bulir tangis awan kelabu
Redupkan kerlip cangkang gemintang tiada kemilau


Merenung ku terpaku di puncak teratas menara nihil ini

Jutaan gemintang mungkin telah turun berpindah menghuni bumi
Kerlip warna warni berserak terpampang dari atas sini
Memang malam tiada mampu lelapkan sekaligus semua insani


Sepasang sayap hitamku merengkuh raga bergeming diterpa angin mendung

Para penghuni malam telah pecahkan sunyi senyap yang terbendung
Pekat-pekat gelap bagai tertikam perlahan pijar lampu-lampu menggantung
Walau tetap ada segelintir jendela meredup dengan si empu berselimut beton terlindung


Aku masih di atas sini
dengarkan denting dawai malam yang belum terbungkam

Masih termangu di atas sini
saksikan theater malam yang belum terpejam

Dan mungkin masih bertopang dagu di ujung menara nihil ini
sampai fajar menikam malam larutkan kelam