Rabu, Mei 05, 2010

KOLABORASI DUA SISI

Aku lelah jadi lemah
Tersilaukan rapuh pendar purnama
Gigil meringkuk mau sirna


Rembulan pantulan surya keegoisan
Angkuh bersinar tunggal redupkan bintang
Tiada guna hiraukan pekat berhias pucat bulatan


Tapi aku tetaplah si rapuh
Begitu mudah mengharu biru
Sungguh pecundang peratap pilu


Sini ku rajam kau dengan perih
Mari ku ajarkan nikmati pedih
Garang pembuluh darah sampai mendidih


Tapi aku letih
Kau akan pulih

Ini... sakit
Ini tidak sulit

Aih, hanya hambar tersisa
Haha, telah tersayat nadi perasa

Apa aku mati?
Tidak, hanya ku selimuti

Kenapa kau rengkuh wajahku?
Agar tersungging seringaiku

Boleh ada tangis?
Tak ada lagi gerimis miris!


Me & The other side

BENGIS

Wahai hamba-hamba cinta
Menarilah...
Berdansalah dalam alunan irama dawai kisah kasihmu.
Nikmatilah...
Nikmatilah gula-gula manisnya,
hingga suatu masa olehmu tergigit melejit pahit getirnya.

Dan di sini...
Hanyalah aku menyeringai bangga telah puas membinasakan rasa dalam beku beku kebekuan kalbu.

Hahaha...

Ooh, indah nian bengis seringai kemenanganku terbingkai pekat merefleksi dalam kelabu sabutan kabut cermin kelam.

PESONA SANG NONA

Sungguh, Nona...
Tanpa sengaja telah ku susupkan sebongkah beku di balik ruas ruas dadaku hingga tiada satu pun pesona dan pikat penjerat hasrat sanggup cairkan menggigil dinginku yang inginkan ku berlaku layaknya pemuja-pemujamu yang setia menghamba mengemis setetes embun hatimu.

Lihatlah sejenak diriku, Nona...
Tiada pantas lagi ku berlutut sejajar dengan seluruh budak-budak sahaya penyembah pendar aura gemulai pesona paras rupawanmu.

Kumohon, Nona...
Jika pun kau sudi, cukuplah berikan aku barang sekeping dua keping recehan kumal dari sakumu, atau sekedar sisa-sisa butir nasi di piring santapmu untuk ku ganjalkan ke lambung keroncongan keluargaku.

Ketahuilah wahai, Nona...
Sesungguhnya mabuk karena pesona jelitamu tiada mampu membuatku mengucap syukur karena bersendawa kekenyangan.

AMNESIA RASA

Sungguh hati telah amnesia...
Lama terlupa akan cinta indahnya rasa.

Hati bagai dungu bertanda tanya...
Cinta itu apa wujudnya???

Lalu kembali bertanya dalam kesah...
Adakah bius menginjeksi hati lalu mati rasa?
Ataukah sebuah masa telah menikam rasa hingga binasa??
Mengapa seolah cinta tak lagi sudi merasuk asa???

Sungguh hati kian miskin mengemis bagai peminta...
Siapa pun, kumohon ingatkan aku rasanya cinta.