Kamis, Oktober 22, 2009

UKIRAN KARYA HATI

Genggaman jemari
mengukir tiap kata alunan nada suara hati...


Menuang tiap tawa ceria
dan retina mata yang menganak sungai...


Ukiran peraba rasa
meraut senyum manis dan tangis melirih getir seirama hati...


Tersebut yang terkasih lalu terbenci,
atau pun terbenci lalu terkasih...


Ya, akulah pengukir goresan dunia kisah hati...

UKIRAN KARYA HATI...


LELUCON REMBULAN. (Catatan Menanti Fajar 2)

Malam ini sungguh cerah merekah hitam tanpa bintang
beralas hamparan pekat-pekat kelam berhias cahaya bulatan pucat sempurna tanpa rona
yang bagai menatapku penuh keji merajam berparas raut keangkuhan...

Tersebutlah kau bulan...

Hey, tidakkah kau sadar betapa tatapan hinamu sungguh konyol, mentari malam...?!
Untuk apa wajah pucat cahayamu dalam temaram kembali mengundang hadir bayang kelam masa menggelikan...!?

Ingatkah kau kata-kata bodoh bidadari kehausan birahi itu tentangmu?
"Saat kau tak disisi Ku, hanya mampu ku pandang rembulan dan berharap kau pun menatapnya...."

Hmm...

Dan tahukah kau...?
Sungguh kini ingin kuledakkan tawa mual terbahak menggores lukai kerongkonganku hingga muntah darah sampai nanah...!

Hahaha...!

Tidakkah lelucon kisah cinta ironisasi romantika mahluk-mahluk hina ini sungguh konyol wahai purnama...?

Jadi...
Bolehkah kukembali terpingkal sampai kau puas?!

Haha...
Hahaha...
Hahahaha...

Atau...
Kau turun kemari temani aku mabuk arak tawa kegilaan lalu bersama nikmati lelucon konyol tentang rembulan hingga membusuk oleh jengah...!!!